Pencarian

Pasar Bisnis Seluler di Jawa Barat Sudah Jenuh

Pasar bisnis seluler di Jawa Barat saat ini sudah semakin jenuh. Kondisi itu disebabkan pembangunan base transceiver station (BTS) yang dibatasi. Akibatnya, operator melakukan perang tarif untuk merebut pelanggan.

General Manager Regional Sales and Customer Service Jabar Tubagus Daniel Azhari di Bandung, Sabtu (15/5), mengatakan, pengembangan usaha masih terkendala karena tidak adanya peraturan daerah di sebagian besar kabupaten/kota tentang BTS. Kondisi itu membuat operator selular di Jabar membangun BTS secara terbatas.

Akibatnya, daya jangkau komunikasi seluler di Jabar pun sulit diperluas sehingga operator bersaing semakin ketat di wilayah yang sudah dibangun BTS. "Wilayahnya sama dengan operator berbeda. Dampaknya, persaingan cenderung tak sehat. Pergerakan operator dibatasi," katanya.

Telkomsel, misalnya, dapat membangun sekitar 700 site (titik) BTS pada 2009. Jumlah itu jauh menurun dibandingkan rencana pada 2010 menjadi sekitar 350 site BTS. Pada akhir 2009, terdapat sekitar 1.400 site BTS Telkomsel di Jabar. Wilayah kerja Telkomsel di Jabar mencakup semua kabupaten/kota kecuali Sukabumi, Bogor, Purwakarta, Bekasi, Depok, dan Karawang.

Jumlah penduduk di wilayah kerja Telkomsel Jabar sekitar 28 juta orang. Penetrasi perusahaan seluler di wilayah itu sudah sangat tinggi dengan jumlah pengguna ponsel sekitar 23 juta untuk semua konsumen operator.

"Jadi, penetrasi untuk semua operator sudah mencapai lebih dari 80 persen dari total penduduk. Angka yang sangat tinggi," ujar Daniel. Fenomena yang terjadi ialah akuisisi pelanggan seluler. Perpindahan kartu seluler yang terjadi secara gencar juga dipicu perang tarif. Operator saling berlomba menawarkan tarif murah karena harus menghadapi persaingan yang sangat ketat untuk merebut pelanggan. 

Tarif murah

Menurut Koordinator StarOne Bandung Iis Rusdiana mengatakan, tarif murah kartu seluler yang kian gencar dipromosikan menyebabkan jumlah pengalihan pengguna jasa operator sangat besar. Di Bandung dan sekitarnya yang mencakup Kota Bandung dan Cimahi serta Kabupaten Sumedang, Bandung, dan Bandung Barat, terdapat sekitar 7 juta pelanggan seluler. Lebih dari 40 persen atau 2,8 juta orang di antaranya merupakan pelanggan yang kerap berganti-ganti kartu seluler.

"Mereka berduyun-duyun pindah operator jika ditawari program tarif murah baru. Pelanggan seperti itu sangat sensitif terhadap tarif murah," katanya.

Saat ini hampir semua operator menawarkan tarif murah termasuk StarOne. Tarif menelepon pengguna StarOne ke operator lain Rp 750 per menit di Bandung, misalnya, sudah jauh lebih murah mulai akhir 2009 menjadi Rp 75 per menit. Bandung termasuk kota yang paling dibidik operator. Semua produk operator seluler bisa ditemukan di Bandung.

Menurut pemilik server pulsa Sipaato, Atto Sunarto (33), sulitnya mencari pelanggan seluler baru diindikasikan dengan penjualan kartu perdana yang tidak signifikan. Sejumlah pedagang pulsa sebenarnya tidak begitu berminat menjual kartu perdana. (bay)

sumber : Pikiran Rakyat

sumber : kompas

Add comment


Security code
Refresh

Pengunjung

Kunjungan : 719840

Sedang Online

Kami punya 15 tamu online

Login Form

Search Engine Submission - AddMe