Pencarian

Penerima Beasiswa Pelopor Menderita

Keraguan untuk bisa meneruskan kuliah sempat muncul di benak Tito Febrianto (17) saat akan lulus Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Betapa tidak, orang tuanya sudah mengatakan bahwa mereka tidak memiliki biaya untuk mengkuliahkan Tito. Padahal mantan ketua OSIS ini merupakan siswa yang berprestasi di sekolahnya. "Awalnya sempat berpikir untuk mencari kerja setelah lulus sekolah," kata dia saat ditemui di Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB), Jln. Ganeca, Bandung, Rabu (1/9).

 

Harapan untuk kuliah akhirnya muncul setelah guru di sekolahnya menyampaikan informasi mengenai Beasiswa Pelopor dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang bekerja sama dengan Salman ITB, dan Edutech Consulting. Beasiswa tersebut diperuntukkan bagi siswa SMA/MA yang kurang mampu dengan anggaran sebesar Rp 100 juta per orang. Dana ini tidak hanya digunakan untuk kuliah dan buku, namun biaya hidup mahasiswa selama belajar, termasuk pemondokan dan biaya kehidupan sehari-hari.

Proses seleksi yang cukup ketat harus dilewati Tito untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Mulai dari seleksi akademis, wawancara dan psikotes di Kabupaten Bekasi, sampai Ujian Saringan Masuk ITB. Dari 100 orang lebih yang mengikuti seleksi beasiswa di Kabupaten Bekasi, hanya tujuh orang yang akhirnya bisa kuliah di ITB dengan mendapatkan beasiswa tersebut.

Berbekal uang Rp 300.000, anak pertama dari empat bersaudara ini berangkat dari rumahnya ke Kota Bandung untuk kuliah di ITB, akhir Juli lalu. "Karena diberitahu akan mendapatkan beasiswa awal Agustus, saya hanya diberi uang untuk ongkos dan biaya hidup selama akhir Juli saja oleh orang tua," ujarnya.

Namun setelah kuliah berlangsung selama hampir sebulan, Tito harus dihadapkan kenyataan bahwa dia dan 95 teman lainnya penerima beasiswa pelopor, belum menerima pencairan dana tersebut. Akibatnya, Tito dan teman-temannya pun pontang-panting untuk mencukupi biaya hidup selama awal kuliah, termasuk biaya makan. "Untung Yayasan Pendidikan Salman menyediakan pemondokan bagi kami selama setahun," kata dia yang diamini teman-temannya di asrama Lembaga Pendidikan Salman.

Menurut Tito, teman-temannya bahkan banyak yang jatuh sakit karena kurang makan. "Kebanyakan dari mereka sakit typhus, bahkan ada yang terpaksa pulang dulu untuk dirawat," kata mahasiswa yang sudah dianggap ketua angkatan oleh teman-temannya sesama penerima Beasiswa Pelopor ini. (Pikiran Rakyat)

Comments  

 
0 # 2011-02-02 12:43
Gak sebegitunya kali..,
kan pelopor selalu dapet bantuan dari lpp salman.......
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # 2011-05-10 09:58
juwita
jhue_thea@yahoo .com
Reply | Reply with quote | Quote
 
 
0 # 2011-05-10 10:02
Saya ingin kuliah tetapi tidak punya biaya, mereka bilang orang gak punya seperti saya tidak pantas kuliah. Apa benar begitu?
Apa kuliah hanya untuk orang-orang yang berada bukan saya yang tak punya apa-apa???
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Pengunjung

Kunjungan : 719839

Sedang Online

Kami punya 15 tamu online

Login Form

Search Engine Submission - AddMe